Udah Sekolah Tinggi-Tinggi Malah Jadi Ojol: Realita, Tekanan, dan Cara Menyikapinya
“Kuliah sampai sarjana, kok kerjanya jadi ojol?” Kalimat semacam ini masih sering terdengar. Di satu sisi terdengar sinis, di sisi lain mencerminkan keresahan banyak lulusan. Fenomena udah sekolah tinggi-tinggi malah jadi ojol bukan sekadar bahan candaan, tetapi potret nyata tantangan lapangan kerja, ekspektasi sosial, dan pilihan hidup di era serba sulit.
Artikel ini membahas mengapa fenomena ini muncul dan bagaimana menyikapinya dengan lebih bijak.
1. Bukan Sekadar “Gagal”
Menjadi ojek online setelah lulus kuliah tidak otomatis berarti seseorang gagal. Bagi sebagian orang, ini adalah:
- Pekerjaan sementara sambil mencari lowongan lain
- Sumber penghasilan cepat saat kebutuhan mendesak
- Cara bertahan di tengah persaingan kerja yang ketat
- Pilihan fleksibel karena tanggung jawab keluarga
Masalahnya muncul ketika masyarakat menyamakan nilai seseorang hanya dari jenis pekerjaannya.
2. Mengapa Banyak Lulusan Berakhir di Ojol?
Ada beberapa faktor yang saling terkait:
a. Persaingan kerja sangat ketat Jumlah lulusan terus bertambah, sementara lowongan formal tidak selalu sebanding.
b. Ketidaksesuaian skill dan kebutuhan industri Banyak yang kuliah, tetapi tidak dibekali keterampilan praktis yang dicari perusahaan.
c. Tekanan ekonomi Setelah lulus, banyak yang harus langsung menghasilkan uang—membayar kost, membantu keluarga, atau mengembalikan utang pendidikan.
d. Proses rekrutmen yang panjang Melamar kerja bisa memakan waktu berbulan-bulan. Sementara tagihan tidak bisa menunggu.
e. Fleksibilitas ojol Penghasilan harian, tidak perlu wawancara panjang, dan bisa langsung kerja.
3. Stigma Sosial yang Memberatkan
Budaya kita masih sering menilai keberhasilan dari gelar dan pekerjaan “bergengsi”. Akibatnya, lulusan yang jadi ojol sering merasa:
- Malu diakui
- Minder dengan teman sebaya
- Tertekan oleh omongan keluarga
- Dianggap menyia-nyiakan pendidikan
Padahal, bekerja di sektor informal tidak otomatis meniadakan kapasitas intelektual seseorang.
4. Sisi Lain yang Jarang Dibahas
Tidak sedikit driver ojol berpendidikan tinggi yang:
- Menggunakan waktu luang untuk usaha sampingan
- Tetap mengasah skill digital
- Menyusun portofolio sambil bekerja
- Menjadikan ojol sebagai batu loncatan, bukan akhir tujuan
Ada juga yang memang menemukan kenyamanan di fleksibilitas dan pendapatan yang relatif bisa dikontrol sendiri.
5. Pendidikan Tetap Berharga
Sekolah tinggi bukan jaminan kerja kantoran, tetapi tetap memberi bekal:
- Kemampuan berpikir kritis
- Daya adaptasi
- Jaringan sosial
- Dasar untuk belajar hal baru lebih cepat
Yang sering menjadi masalah bukan pendidikannya, melainkan ekspektasi bahwa ijazah otomatis sama dengan kursi di kantor.
6. Cara Menyikapi jika Ini Terjadi pada Dirimu
Jika kamu sedang di posisi ini, beberapa langkah yang bisa membantu:
- Ubah narasi dalam diri Kamu sedang bertahan dan menghasilkan, bukan gagal total.
- Tetapkan tujuan jangka menengah Ojol boleh jadi solusi sekarang, tetapi arahkan ke skill atau bidang yang ingin dituju.
- Manfaatkan waktu kosong Belajar skill baru, ikut freelance, bangun portofolio, atau coba usaha kecil.
- Jangan isolasi diri Tetap terhubung dengan komunitas profesional atau alumni.
- Kelola keuangan dengan disiplin Agar penghasilan harian tidak habis tanpa arah.
7. Untuk Keluarga dan Lingkungan
Dukungan jauh lebih berguna daripada sindiran. Alih-alih berkata “untuk apa sekolah tinggi-tinggi”, lebih baik tanyakan:
- Apa rencana ke depannya?
- Apa yang bisa dibantu?
- Skill apa yang sedang dikembangkan?
Tekanan sosial seringkali lebih melelahkan daripada pekerjaannya sendiri.
8. Melihat Gambaran Lebih Besar
Fenomena ini juga menjadi sinyal bahwa:
- Sistem pendidikan perlu lebih relevan dengan dunia kerja
- Lapangan kerja formal perlu diperluas
- Masyarakat perlu lebih fleksibel memaknai “sukses”
Kerja layak bukan hanya yang di balik meja, tetapi setiap pekerjaan yang halal, produktif, dan menopang kehidupan.
Kesimpulan
Udah sekolah tinggi-tinggi malah jadi ojol adalah realitas yang pahit bagi sebagian orang, tetapi bukan vonis seumur hidup. Ini bisa menjadi fase bertahan, masa transisi, atau bahkan titik balik menuju peluang lain.
Yang lebih penting dari status pekerjaan adalah arah yang sedang dibangun. Ijazah tetap berharga, kerja tetap mulia, dan proses tetap milik masing-masing individu. Jangan biarkan stigma mengerdilkan langkah—karena banyak kisah kemajuan dimulai dari titik yang tidak ideal.

Komentar
Posting Komentar